Pagi
itu terasa berbeda, biru langit laksana sutera dihiasi dengan gumpalan awan
putih, suasana pagi yang bersahaja seakan membuat siapapun yang memiliki hati
dapat merasakan kedamaian yang ditawarkan oleh hembusan angin dan kicauan
burung bersahutan, tapi kedamaian yang diharapkan itu tidak dapat membuat
hatiku menjadi tenang, dikarenakan pengalaman yang tak biasa yang terjadi
semalaman sehingga membuatku menjadi orang yang seakan dikejar oleh mahluk buas
bergigi tajam yang sedang kelaparan. Seakan pemandangan indah dan udara sejuk
pagi hari yang terhampar di sekitarku tidak ada gunanya. Sepanjang perjalanan
aku hanya memikirkan mimpiku semalam. Bagaimana suasana hutan gelap yang
kulihat dalam mimpiku menjadi nyata dan serasa aku sedang berjalan kembali di
dalamnya. Semua objek yang muncul dalam mimpiku seakan-akan muncul di hadapanku
dan bisa kurasakan.
Di
sekolahpun aku tidak fokus dengan penjelasan guru, pikiranku terus melayang
membayangkan apa yang aku alami, dan mungkin saja bukan Cuma aku yang mengalami
mimpi tersebut, berita yang mengejutkan tadi pagi yang membuatku
bertanya-tanya. Apakah orang-orang yang meninggal semalam itu disebabkan oleh
mimpi yang kami alami? Karena terlihat nyata bagaimana orang-orang itu di saat
sebagian menghilang, dan sebagian lagi membentur tanah bebatuan dan tewas dalam
mimpinya. Kalau saja itu memang benar kenyataannya, aku mungkin sudah mati
sekarang apabila aku tidak sempat terbangun tadi pagi. Dan orang-orang yang
berhasil selamat tadi malam? Besar kemungkinan mereka akan bertanya-tanya dalam
rasa takut sama halnya seperti apa yang aku alami saat ini. yah, setidaknya aku
tidak sendirian.
Kemudian
terlintas di benakku untuk mencari orang yang tadi malam hadir dalam mimpi aneh
itu, dengan tujuan agar aku bisa mencari tau bersama dan coba menganalisa apa
yang sebenarnya terjadi. Aku sangat berharap ada yang mengalami hal yang sama
denganku, dengan kata lain dua orang lebih baik daripada sendirian. Aku jadi
bersemangat dalam hal ini.
Tiba-tiba,
aku dikagetkan oleh suara guru ku yang tanpa kusadari ia telah memperhatikanku
sejak tadi.
“Dave, tolong kamu jelaskan apa yang dimaksud dengan
kinematika partikel yang baru saja ibu terangkan!” perintah guruku dengan nada
agak membentak.
Aku
terpaku dan tidak bisa melakukan apa-apa, jangankan untuk berfikir, untuk
sekedar menghela nafas pun aku sangat susah melakukannya. Aku tersudut, ku
tengok sekelelilingku, semuanya memandangku dengan tatapan seakan ingin
menelanku hidup-hidup, hanya sahabatku, Tom, yang ku lihat agak tersenyum, tapi
senyum yang tidak memberi semangat, oh tidak.. senyum itu sama ketika ia
melambaikan tangan padaku saat aku akan naik pesawat, ya, tom ada di mimpi itu
semalam. Ini bagus, aku bisa bertanya apa tom apa dia juga bermimpi melihatku
naik pesawat tadi malam.
“Hei
Dave ! kamu dengar tidak? Apa perlu ibu ulangi sekali lagi?” ujar guruku merasa
terabaikan.
“de.. dengar kok bu” jawabku.
“kalau begitu silahkan maju” kata guruku.
“sekarang bu?” tanyaku.
“No, Next year dave!” ucap guruku yang mulai marah
Teman-temanku
semuanya tertawa, tidak terkecuali dengan Tom, sahabatku sendiri. Aku merasa
seperti orang idiot yang sedang dikelilingi serigala lapar. Emosiku memuncak,
aku tidak tahan dengan perlakuan seperti itu, coba saja mereka ada di posisiku
saat ini dan merasakan hal yang sama dengan apa yang baru saja aku rasakan,
pasti mereka akan mengerti mengapa aku tidak bisa memperhatikan penjelasan dari
guru. Cukup sudah, aku sudah tidak tahan.
“ Aku tidak tau, bu. Maaf, tadi aku tidak memperhatikan”
kataku berterus terang.
“Dave, kalau kau masuk di kelasku hanya untuk melamun, lebih
baik tidak usah masuk sama sekali, yang rugi juga bukan saya, tapi kamu
sendiri” kata guruku.
“aku minta maaf,bu. Sepertinya aku izin untuk keluar saja
kali ini, aku tidak bisa berkonsentrasi pada saat ini” kataku.
“oh, silahkan, mungkin di luar kamu bisa menenangkan
pikiranmu, ibu paham, ketika ibu seumuran denganmu ibu juga punya masalah yang
sama denganmu sampai ibu tidak bisa berkonsentrasi pada saat pelajaran dimulai”
katanya
Deg.....
aku terkejut dengan pernyataan yang baru saja ku dengar. Beliau punya masalah
yang sama denganku? Apa beliau bermimpi juga sama sepertiku?
“ maksud ibu?” tanyaku memperjelas
“nantilah kita bicarakan, sepulang sekolah nanti kamu ketemu ibu di ruangan guru”.
Ujarnya.
Apa aku
tidak salah dengar? Guruku juga mengalami hal yang sama denganku? Berarti
sekarang dia sudah terbebas dari mimpi itu? Terus begaimana dia bisa tau aku
sedang ada masalah tentang mimpi itu? Apakah dia ada di mimpiku tadi malam? Tak
terasa kepalaku dibanjiri oleh aliran deras pertanyaan-pertanyaan yang belum
terjawab. Setidaknya sampai sore nanti.
Kuputuskan
untuk mengurungkan niatku, aku kembali duduk di kursiku dan berkata pada guruku
kalau aku tidak jadi keluar, aku janji akan fokus dengan penjelasannya. Beliau
pun membalas dengan senyum penuh misteri.
******
Tak
terasa jam pelajaran telah usai, aku segera meninggalkan ruang kelas, menuju
lokerku yang terletak tidak jauh dari ruangan bahasa inggris, di sana aku
menyimpan buku pelajaranku dan setelah itu aku bergegas mencari tempat untuk
menyendiri, mungkin saja pikiranku bisa tenang. Dan tujuanku adalah lapangan
bola yang terletak di sebelah selatan sekolahku. Aku hanya duduk termenung di
sebuah bangku yang disediakan di pinggir lapangan. Entah kenapa setelah sekian
lama aku duduk menyendiri di sini, piikiranku sama sekali tidak bekerja, aku
hanya lebih pantas dikatakan termenung sendiri di tengah keramaian siswa-siswi
yang lalu lalang melakukan berbagai macam aktivitas dan bersenang-senang serta
bersenda gurau dengan teman sebaya nya. Andai saja mereka ikut merasakan apa
yang kurasakan, bukan tidak mungkin mereka malah panik dan ketakutan. Aku
mencoba untuk tetap tenang sambil mencari tau arti dari mimpiku semalam,
mungkin saja ada petunjuk yang terlewat. Kucoba mengingat kembali detail demi
detail mimpiku. Pada saat aku berlari tak tentu arah di tengah hutan yang
gelap, ah tidak ada apapun di sana. Di pesawat, ya mungkin saja... oh astaga,
aku ingat, Tom. Ia ada di mimpiku semalam, mungkin saja ia bermimpi yang sama.
Aku kemudian segera beranjak dari tempat dudukku, dan berniat untuk mencari Tom. Meskipun agak aneh, karena
setauku mimpi itu bersifat personal, mana mungkin ada orang yang bermimpi sama.
Ah tak ada salahnya aku bertanya, lagian mimpiku sebenarnya bukan mimpi pada
umumnya. Aku segera mempercepat langkahku menuju tempat di mana biasanya Tom
berada pada saat istirahat, di kantin.
Dan
benar saja, di kantin ada Tom dan teman-temanku yang lain, sedang bercanda ria
di meja makan. Aku menghampirinya dan berbisik padanya
“Bro, bisa ikut denganku sebentar? Ada yang ingin kutanyakan
padamu”
“hey, what’s up bro, ada
yang salah? Bicarakan lah dengan kami di sini” katanya santai.
“tidak, aku hanya ingin membicarakannya padamu, ini rahasia”
kataku sambil berbisik.
“hehe, rahasia apa? Kau baru saja mengetahui siapa pembunuh
presiden Kennedy?” katanya sambil bercanda.
“aku serius, ini sangat penting, hanya kau yang bisa
kuandalkan dalam situasi ini, mohon mengertilah” kataku.
Ia pun langsung
mengangguk dan berdiri mengiyakan permintaanku. Aku langsung menarik tangannya
meninggalkan kantin.
“hei pelan-pelan dong !” kata Tom padaku.
Terdengar
teriakan salah satu temanku dari belakang,
“hahah Sepertinya Tom sedang
marahan dengan pacar barunya nih “.
Lalu
seketika ruangan kantin dipenuhi tawa. Aku sangat malu, apa caraku pada Tom
terlalu keterlaluan atau terlalu berlebihan sampai kami terkesan seperti
pasangan homo. Kulihat tom agak melenggak-lenggokkan pinggulnya ibarat seorang
waria. Ku tau ia hanya bermaksud untuk bercanda dan merespon ledekan temanku,
tapi aku tetap merasa terganggu dengan tingkahnya. Dan ternyata tanpa kusadari
ternyata daritadi aku sedang memegang tangan Tom, alamak. Segera kulepaskan
tangannya dengan keras sambil menunjukkan wajah sinis padanya.
“hahah dasar homo” kata Tom
padaku.
“heeuh.. terserah” ucapku ketus.
Lalu
ku pimpin ia menuju bangku di depan ruangan perpustakaan, dan aku segera
menanyakan apa yang akan kutanyakan padanya.
“Tom, tadi malam kau bermimpi tentang
apa?” tanyaku.
“hahah jadi sekarang kau ingin
jadi penafsir mimpi? Bravo, bravo, kalau begitu coba tafsir mimpiku, tadi malam
aku bermimpi sedang bercumbu dengan Ibu Eliza” katanya enteng.
“Oh C’mon dude, aku sedang
serius, jangan bercanda dulu” kataku tegas
“hehe sorry, sorry.. tapi kenapa
kau bertanya seperti itu?” ia balik bertanya padaku.
“oh man, just answer my f***ing
question” kataku mulai memaksa.
“hei hei relax man, hmmm...
semalam aku mimpi apa ya? Aku sudah tidak ingat, rasanya aku tidak bermimpi
tadi malam, ketika aku tidur aku tidak ingat bermimpi apa, dan ketika aku buka
mata tau-taunya ternyata hari sudah pagi, jadi semalam itu berlalu begitu saja kawan”. Katanya
“serius? Apa kau tidak bermimpi
melihat pesawat?” tanyaku.
“entahlah kawan, aku benar-benar
tidak ingat, sepertinya otakku terlalu lelah dan mengabaikan segala yang berada
dalam mimpiku. Memangnya sebenarnya ada apa kawan?” katanya
“Sebenarnya aku bermimpi aneh
semalam, yang pasti aku melihatmu di dalam mimpiku, saat itu kau....”
“wow wow woow, tunggu dulu, jadi
kau melihatku di dalam mimpimu? Dan kau bertanya apa aku melihatmu juga di
mimpiku? Kau mengira kita bermimpi hal yang sama?” ujarnya memotong
pembicaraan.
“Ya, kira-kira seperti itulah”.
Jawabkku
“oh kawan, apa yang terjadi
padamu? Seharian ini aku melihat ada yang aneh denganmu, dan sekarang kau
percaya kalau dua orang atau lebih bisa bermimpi hal yang sama atau berada di
alam mimpi yang sama dalam satu waktu? You’ve
gotta be kidding me buddy”. Ujarnya
“Dengarlah, aku percaya kalau
mimpiku tadi malam adalah mimpi yang tidak biasa, apa kau pernah membaca Creepypasta tentang Monkey dream? Orang-orang
yang berada di mimpi itu satu persatu mati karena hal-hal yang mengerikan,
hanya yang terbangun yang bisa selamat dari mimpi tersebut, dan aku beruntung
bisa terbangun tadi pagi, dan kau tau apa yang membuatku yakin kalau itu bukan
mimpi biasa? Tadi pagi ada berita yang menayangkan orang-orang yang mati tidak
wajar di saat tidurnya, aku yakin itu adalah orang yang tidak sempat bangun di
mimpiku”. Kataku
Tom
terdiam sesaat, antara percaya atau tidak percaya dia berkata
“Damn dude! Kalau yang kau
katakan itu memang benar-benar terjadi, aku takut mimpi itu akan terjadi lagi
suatu saat nanti, mungkin sebentar malam. Ayo ikut aku, kita ke ruangan
komputer sekarang mungkin kita bisa cari di internet tentang mimpimu itu”.
Ujarnya
“ide bagus” kataku.
Kami
pun segera menuju ruangan komputer dengan tergesa-gesa. Sesampainya di sana,
tanpa tunggu aba-aba lagi kami langsung menyalakan komputer dan mulai searching
di internet. Kucoba memulainya dengan kata kunci “Monkey Dream” tapi hasilnya
tidak ada yang berhubungan dengan mimpiku, lalu ku buka kembali salah satu
cerita yang pernah kubaca di sebuah blog yang sangat sering kukunjungi, dapat.
Isinya tidak lain hanya sekedar cerita seram yang tidak bisa dijadikan acuan
untuk memecahkan masalahku. Tom meminta persetujuanku untuk mempersilahkan
dirinya untuk membaca cerita itu sejenak. Aku mengiyakan, mungkin dengan
begitu, ia bisa sedikit memahami masalahku.
Setelah
membaca, kutanyakan tanggapannya mengenai cerita itu, katanya amazing, hanya
itu, hahahah. Tapi kulihat wajahnya yang
tegang dan agak ketakutan saat dia membaca tadi, hahahah, bagaimana jika ia
yang berada di posisiku. Tom lalu menatapku, ia mulai paham dengan apa yang
terjadi, dan ia mulai memintaku untuk menceritakan mimpiku secara mendetail, timbullah
aura kedetektifannya, hehe. Akupun menceritakan semuanya, dan ia terdiam tanpa
tanggapan.
Cukup
lama kami berdua terdiam, kutau Tom sedang mencoba berfikir apa yang mesti
dilakukan, jadi aku juga ikut diam menunggu hasil pemikirannya yang brilian.
Lama, lama sekali.
“oh aku tau..!” ucap Tom
mengagetkanku.
“apa yang kau tau?” tanyaku
antusias
“aku tau untuk sekarang kita
tidak bisa melakukan apa-apa” katanya tegas
“hah?” aku tidak bisa berkata
apa-apa. Aku mulai meragukan IQ dari sahabatku sendiri.
“iya, untuk sekarang kau coba
untuk mempublikasikan dan share pengalamanmu di semua media sosial yang kau
punya, mungkin saja ada yang bernasib sama denganmu, mungkin mereka akan
menanggapi tulisanmu. Saat kau menemukan orang yang bernasib sama denganmu,
kurasa akan lebih mudah untuk menelusurinya bersama-sama”. Katanya
“Brilian, brilian.. kau adalah
orang idiot yang paling jenius yang pernah aku kenal Tom”. Ucapku bersemangat
“hehe akhirnya kau sadar juga”.
Katanya terkekeh.
Aku
pun tanpa basa-basi lagi mulai menulis semua yang kualami semalam dan
menyebarluaskannya di seluruh akun sosialku, sedangkan Tom hanya melihatku yang
sedang bersemangat. Oke sekarang ceritaku sudah ku sebar, sekarang kita tinggal
tunggu tanggapan dari orang di luar sana.
Tiba-tiba
bel panjang terdengar di luar ruangan, bel panjang itu berarti waktunya untuk
pulang. What? Pulang? Sekarang jam pulang? Kami saling memandang satu sama
lain, ku yakin di kepala kami punya pertanyaan yang sama, selama itu kah kami
berada di sini? Berati kami bolos beberapa pelajaran. Seketika kami hanya
tertawa terbahak-bahak seakan tidak ada rasa bersalah karena kami telah
membolos. Kamipun mulai beranjak meninggalkan ruangan itu. Tom berpamitan ingin
segera pulang karena ada hal yang ingin dia kerjakan. Kami pun berpisah.
Aku
tidak langsung pulang karena mengingat janjiku dengan guruku tadi pagi, Ibu
Bertha. Aku melangkahkan kakiku menuju ruangan guru. Suasanya di sana sudah
sepi dan tidak butuh waktu lama aku sudah bertemu dengan ibu Bertha, ia pun
mempersilahkanku duduk.
“Dave, aku tau kamu sedang berada
dalam masalah sehingga kamu tidak berkonsentrasi pada jam pelajaranku. Aku pun
pernah merasakan masalah yang sama denganmu saat aku seusiamu, tapi aku minta
padamu agar tidak membawa masalah itu masuk ke dalam proses belajar”.
Aku
masih bertanya-tanya dengan ucapan bu Bertha tersebut, apa ia sudah tau
masalahku dan dia juga pernah bermimpi sepertiku? Kalau begitu aku bisa
bertanya banyak hal tentang mimpiku kepadanya. Aku jadi bersemangat.
“Iya bu, aku minta maaf, aku baru
pertama kali mengalami hal yang sangat aneh ini, aku tidak tau apa yang harus
aku lakukan, aku mohon bantuan ibu”. Kataku
“he he he, apa yang bisa aku
bantu Dave, kau tau aku tidak bisa terlalu ikut campur dengan masalah pribadi
muridku, apalagi dalam masalah Percintaan”. Ujarnya terkekeh.
“Percintaan?” ucapku tak
mengerti.
“iya, Cinta. Kamu sedang dalam
masalah cinta kan?” katanya ringan.
Apa?
Hahah aku sedang mengalami masalah percintaan? Dasar guru sok tau, main asal
tebak saja, aku tidak akan menceritakan masalahku padamu, hah, dikiranya aku
ini sedang bergalau-galau ria. Oh God...
“enggg... maaf bu, kayaknya aku
harus cepat pulang, maaf aku tidak bisa bercerita tentang masalah...
percintaanku...” kataku datar
“hiihihi Dave.. Dave.. silahkan,
tapi kalau kau butuh teman curhat kau bisa temui ibu” katanya sambil tertawa
kecil.
“iya bu..” kataku polos.
Aku lalu meninggalkan ruangan
guru itu dengan wajah tidak bersemangat sama sekali.
“Dasar siluman ular berkepala
tujuh”. Aku memaki di dalam hati.
Tapi
seketika aku sadar akan kemungkinan yang bisa terjadi saat aku tidur sebentar
malam. Aku tidak tau mimpi seperti apa yang telah menungguku.
-To
be Continued-

