Pukul 03.05 AM, sudah biasa aku
terbangun sekitar jam tiga subuh, entah itu faktor kelainan atau hanya
kebetulan saja, aku tidak memperdulikannya karena sudah jadi kebiasaan.
Biasanya yang kulakukan jam segini ya makan, hehe. Aku pun beranjak dari tempat
tidurku langsung menuju dapur, memeriksa apakah ada yang bisa dimakan,
orang-orang rumah juga sudah tau kebiasaanku jadi mereka selalu menyimpan
makanan buatku.
Sambil
menikmati makan “Dinihari-ku”, aku biasanya mengingat kembali mimpiku tadi, dan
malam ini mimpiku aneh sekali, di dalam mimpiku aku berjalan di tengah hutan,
tidak ada orang lain atau hewan di sekitarku, yang ada hanya pohon-pohon besar
menjulang dan menghalangi cahaya matahari, sehingga suasana di sekitarku
menjadi gelap dan menyeramkan. Di sepanjang jalan, serasa ada seseorang atau
sesuatu yang mengikutiku seakan ingin memantau gerak-gerikku, bulu kudukku
terus merinding sepanjang perjalanan, dan benar-benar terasa nyata. Jantungku
terus berdebar kencang, keringatku mengalir perlahan, entah itu hanya dalam
mimpi atau memang aku ikut berkeringat sungguhan tapi semuanya benar-benar
terasa nyata.
Kutingkatkan
kecepatan berjalanku, tapi semakin aku berjalan cepat, semakin kuat rasa
ketakutanku dan semakin takut aku malah semakin kencang aku berjalan hingga
akhirnya aku lari sekencang mungkin untuk menghindari rasa takutku. Tak lama
kemudian aku melihat cahaya di kejauhan, aku pun terus berlari menuju cahaya
itu, berharap aku bisa keluar dari hutan ini. tak lama kemudian aku sudah
berada di tempat datangnya cahaya itu, sangat terang cahayanya sehingga membuat
aku menutup mata karena tidak tahan akan silau nya, dan setelah beberapa saat
aku membuka mataku, yang ku lihat adalah ibuku dan ayahku serta beberapa
adikku. Di belakang mereka ada teman-temanku dan orang-orang yang aku kenal.
Semuanya melambaikan tangan padaku, semuanya tersenyum. Tapi senyum yang
kulihat terasa berbeda, senyum yang tidak memiliki jiwa kebahagiaan, senyum
yang terasa hambar, tatapan mereka padaku adalah tatapan kosong, seakan tidak
punya semangat atau ekspresi. Semuanya melambaikan tangan padaku seakan ingin
mengucapkan selamat jalan. Aku pun menoleh ke belakang, dan ternyata aku sudah
berdiri di depan tangga pesawat, tidak ada lagi hutan menyeramkan tadi. Yang
ada hanya pesawat besar yang aneh, pesawat ini dihiasi dengan bermacam-macam
warna, sehingga tampak seperti pesawat di karnaval. Di dalamnya banyak orang
yang sudah duduk di kursi masing-masing, sepertinya tinggal menungguku. Yang
membuatku merinding lagi ialah ekspresi orang-orang di dalam pesawat itu,
sebuah ekspresi yang tidak ingin kalian ingat-ingat kembali apabila pernah
melihatnya, ekspresi yang menunjukkan wajah ketakutan bercampur bingung. Tapi
tidak sama dengan ekspresi ketakutan di film-film horror, ekspresi yang ku
lihat ini adalah ekspresi ketakutan yang sangat nyata, seperti telah
diperlihatkan kematian didepannya, lalu bersiap untuk menghadapinya, mungkin
seperti itu.
Entah
kenapa akupun melangkahkan kakiku menaiki anak tanga satu per satu menuju pintu
pesawat. Langkah-langkahku terasa berat, dan semakin lama aku menaikinya
semakin lelah aku melangkah. Dan saat aku menoleh kebawah, alangkah kagetnya
aku sampai jantungku terasa terpukul, aku sudah sangat jauh menaikinya,
sampai-sampai wajah teman-temanku tadi tidak kelihatan lagi, mereka hanya
seperti titik-titik kecil bila dilihat dari atas sini. Aku dipenuhi rasa takut
dan keheranan, sebab seingatku tangga ini hanya sekitar dua puluhan anak tangga
saja, tapi nyatanya setelah melihat ke bawah mungkin sudah seribu anak tangga
kulewati. Ku menoleh ke atas, ada sekitar tujuh anak tangga lagi yang harus
kunaiki, aku pun mengumpulkan semangatku lagi dan mulai melangkahkan kakiku
menuju anak tangga selanjutnya, tapi saat kakiku mulai menyentuh tangga itu, di
situlah aku terbangun.
Tak
terasa bulu kudukku merinding, jantungku berdebar kencang lagi, ketakutan yang
ku alami di mimpi terbawa sampai ke alam nyata. Aku mencoba memecahkan maksud
dari mimpi tersebut, semakin ku dalami tanda-tanda dan arti dari setiap frame dalam mimpiku itu, semakin takut
pula diriku. Hingga tak terasa makananku sudah habis, aku menuju kamar mandi,
mencuci tangan dan sikat gigi. Di cermin kutatap wajahku sendiri, ada raut
kecemasan di dalamnya, apa maksud dari mimpi aneh itu, mengapa baru sekarang
aku merasakan sensasi dari mimpi yang luar biasa aneh dan menakutkan. Heeeeuh..
kucoba mengembuskan nafas panjang, sambil mengingatkan diriku bahwa itu hanya
mimipi, tak lebih dari sekedar bunga tidur. Aku pun berjalan menuju kamarku
untuk tidur lagi, kucoba untuk rileks dan tidak berpikiran yang aneh-aneh. Tapi
kenyataannya mimpiku tadi masih terus terbayang sehingga aku sulit untuk
relaksasi, jantungku masih terus berdebar kencang. Kupaksakan diriku untuk
segera tertidur dan perlahan-lahan rasa kantukku mulai meningkat dan akhirnya
aku tertidur juga.
******
Tiba-tiba entah kenapa badanku terasa sangat
berat, aku sadar ada yang menidihku, aku pun terbangun dan membuka mata, tapi
tidak ada siapapun atau apapun yang coba menindihku, tanganku pun tak bisa ku
gerakkan begitu pula anggota tubuhku yang lainnya, jantungku berdebar kencang
lagi, aku coba memberontak tapi tetap tidak bisa bergerak, yang ada aku malah
kesulitan bernafas, kucoba berteriak sekuat tenaga tapi rasanya mulutku sangat
sulit untuk digerakkan, yang keluar dari mulutku hanya suara teriakan tertahan
yang tidak jelas, dan semakin lama situasi ini membuatku sangat panik, nafasku
sudah tidak teratur lagi malah sangat sulit untuk sekedar bernafas, perlahan
penglihatanku buyar lalu aku berada di dalam kegelapan total.
Tak lama kemudian ku buka mataku
perlahan, kupandangi sekitarku dan alangkah terkejutnya aku sudah berada di
mimpiku tadi, tepat berada di tujuh tangga terakhir. Aku ingin segera bangun
dari situ, karena aku sudah sangat ketakutan, namun rasa penasaran lah yang
mendorongku untuk tetap bertahan. Toh ini Cuma mimpi juga, aku tidak akan
kenapa-napa, begitu pikirku. Kemudian aku langkahkan kakiku menaiki anak tangga
tersebut, hingga aku sudah berada di pesawat dan menemukan kursiku dengan
tulisan “DAVE TREAMLERR”, itu namaku. aku langsung duduk di kursi tersebut, dan
mencari posisi nyamanku. Di sebelahku ada seorang anak muda yang kira-kira
seumuran denganku, aku menyapanya dengan ramah bermaksud untuk berkenalan, dan
ketika ia menoleh ke arahku perasaanku seketika menjadi tidak bersemangat.
Ekspresi ketakutan yang tadi kumimpikan kembali kulihat secara dekat, perutku
terasa dikoyak-koyak dari dalam, dan seakan ada yang menghantam tenggorokanku
sehingga leherku terasa sesak dan aku mulai batuk dan berdehem menahan rasa
sakitnya. Sungguh ekspresi yang membuatku sangat tidak nyaman. Aku sudah
menyadari ada yang tidak beres di sini, aku harus segera keluar dari pesawat
ini. tapi, lagi-lagi rasa penasaranku membuatku mengurungkan niatku untuk
mengakhiri mimpi ini. aku coba meredam rasa takutku, kucoba untuk tidak
menengok ke mana-mana kecuali terpaksa.
Tak lama kemudian seseorang
keluar dari ruangan kokpit, ia membawa sebuah pengeras suara dan mulai
berbicara kepada semua penumpang.
“para penumpang yang terhormat kita telah sampai di tujuan, waktu kalian
telah tiba, selamat memulai perjalanan selanjutnya”.
“apa maksudnya?” pikirku.
Bukankah kita masih mengudara, kenapa ia
bilang telah sampai di tujuan? Belum terjawab pertanyaanku, tiba-tiba pesawat
yang kutumpangi menghilang, dan hanya tersisa aku dan penumpang lainnya, dan
tentu saja kami terjun bebas ke tanah. Aku sangat terkejut, jantungku sudah mau
copot, kurasakan badanku menukik tajam menuju daratan yang keras di bawah. Aku
melihat banyak orang yang sama-sama jatuh sepertiku. Spontan kamipun berteriak
sekencang-kencangnya,
“Oh tidak,, kenapa seperti ini?
apa yang akan terjadi? Aku pasti mati.. aku pasti mati!!” pikirku.
Jalan satu-satunya adalah bangun,
ku coba tutup mataku sekuat-kuatnya sambil menyuruh diriku untuk bangun secepat
mungkin.
“Bangun, bangun! Tempatmu bukan
di sini Dave, ayo bangun!” jeritku sebisanya.
Angin makin kencang menghantam
wajahku, badanku semakin laju menukik kebawah, dan daratan semakin jelas
terlihat. Kulihat orang-orang di sekitarku menghilang satu persatu, apakah
mereka berhasil bangun? Mungkinkah kami di dalam mimpi yang sama? Apa ini mimpi
yang tidak biasa? Aku semakin bingung. Sementara yang lain sudah menghilang,
aku masih menukik tajam menuju daratan, kenyataan bahwa aku tidak bisa bangun
semakin membuatku ketakutan, tapi aku tidak menyerah, ku kuatkan hatiku untuk
segera bangun, lalu tiba-tiba kulihat orang-orang yang tidak bisa bangun,
menghantam tanah yang penuh bebatuan dengan kepala terlebih dahulu terbentur,
darah pun terciprat menggenangi daratan itu dan seketika daratan itu dipenuhi
warna merah darah segar dan dipenuhi jasad manusia yang tak beraturan lagi
posisinya.
“OH TIDAAAK,, BANGUUN DAVE,
BANGUUUUUUN !”
******
“AAAAAAAAAARRRGHH......!!!”. aku
menjerit sekuat mungkin. Jantungku berdegup kencang, keringatku mengalir dengan
deras ke seluruh tubuh, aku seperti orang yang bercebur ke kolam lalu keluar
lagi dengan basah kuyup, kulihat tempat tidurku penuh dengan keringat. Aku
sangat sangat ketakutan, tapi aku bersyukur aku berhasil bangun dari mimpi
seseram itu. Kulihat jam menunjukan pukul 06.25 AM , untunglah belum terlambat
ke sekolah. Lalu perlahan kudengar dari kejauhan suara orang berlari kekamarku,
dan membuka pintu kamarku. Nafasku tertahan saat menebak siapa yang masuk ke
kamarku, sebab aku masih sangat shock. Pintu kamar lalu terbuka perlahan dan
ternyata itu ibuku. Aku lega yang masuk bukan pembunuh atau hal mengerikan
lainnya. Ibuku Cuma terkejut dengan teriakanku, aku lalu minta maaf dan
mengatakan kalau aku mengalami mimpi buruk. Ibuku hanya tertawa. Tawa yang
sedikit menggangguku, aku yang hampir mati shock, bagaimana bisa ibuku Cuma
tertawa. Hmmm andaikan kau tau apa yang aku mimpikan, bu. Tak sabar aku
menceritakannya pada orang di rumah.
Aku pun langsung mandi dan mulai
berpakaian bersiap ke sekolah. Sebelum ke sekolah aku selalu sarapan bersama
keluargaku, aku bersyukur punya orang tua yang selalu mengutamakan kebersamaan
keluarga, walau aku tau mereka punya kesibukan masing-masing. Aku sukanya makan
di depan televisi, karena terkadang aku bosan makan apa bila pikiranku hanya
fokus di makanan, aku butuh hiburan untuk menemani makanku. Ku nyalakan
televisi dan kucari tayangan kartun, ya walaupun aku sudah duduk di bangku SMA,
aku masih saja suka nonton kartun, yang paling ku suka adalah spongebob
squarepants. Terkadang orang tuaku menduga aku punya kelainan atau aku belum
mengalami pubertas, tapi mereka salah, aku hanya.... suka kartun, tak tau
mengapa. Selagi asik menikmati sarapan dan acara kesukaanku, tiba-tiba tayangan
di TV dihentikan sementara karena ada Breaking News. Ah sialan.
“selamat pagi, pemirsa. Pagi ini sebuah kejadian yang tidak biasa
terjadi di berbagai belahan dunia. Sekelompok orang ditemukan tewas dikamarnya
dengan kondisi yang mengenaskan yaitu keluarnya darah dari mulut, hidung, dan
telinga, bahkan ada yang keluar dari mata juga. Kejadian ini terjadi pada saat
yang hampir bersamaan. Anehnya lagi, kasus ini tidak terjadi di satu wilayah
saja, tapi terjadi di berbagai negara. Ada spekulasi yang menyatakan bahwa
kasus ini adalah disebabkan oleh virus, ada juga yang mengatakan dari makanan,
dan ada pula yang mengatakan ini kebetulan semata. Sampai saat ini belum ada
yang bisa menjelaskan secara pasti apa penyebab dari fenomena aneh ini.
demikian breaking news kali ini, saya beserta kru yang bertugas mengucapkan
terima kasih atas perhatiannya. Selamat pagi”.
"hmm,, ada-ada saja". Pikirku lalu mematikan televisi dan beranjak dari sofa kemudian bersiap berangkat.
Aku sudah berada di luar rumah kettika tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu yang membuatku gugup dan takut luar biasa.
"OH TIDAK, TIDAK MUNGKIN... APAKAH...? OH TIDAK!"
-To
Be Continued-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar