Jumat, 18 September 2015

Nigtmare Survivor [Part 2 : Pertanyaan-pertanyaan yang menunggu jawaban]



                Pagi itu terasa berbeda, biru langit laksana sutera dihiasi dengan gumpalan awan putih, suasana pagi yang bersahaja seakan membuat siapapun yang memiliki hati dapat merasakan kedamaian yang ditawarkan oleh hembusan angin dan kicauan burung bersahutan, tapi kedamaian yang diharapkan itu tidak dapat membuat hatiku menjadi tenang, dikarenakan pengalaman yang tak biasa yang terjadi semalaman sehingga membuatku menjadi orang yang seakan dikejar oleh mahluk buas bergigi tajam yang sedang kelaparan. Seakan pemandangan indah dan udara sejuk pagi hari yang terhampar di sekitarku tidak ada gunanya. Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan mimpiku semalam. Bagaimana suasana hutan gelap yang kulihat dalam mimpiku menjadi nyata dan serasa aku sedang berjalan kembali di dalamnya. Semua objek yang muncul dalam mimpiku seakan-akan muncul di hadapanku dan bisa kurasakan.
                Di sekolahpun aku tidak fokus dengan penjelasan guru, pikiranku terus melayang membayangkan apa yang aku alami, dan mungkin saja bukan Cuma aku yang mengalami mimpi tersebut, berita yang mengejutkan tadi pagi yang membuatku bertanya-tanya. Apakah orang-orang yang meninggal semalam itu disebabkan oleh mimpi yang kami alami? Karena terlihat nyata bagaimana orang-orang itu di saat sebagian menghilang, dan sebagian lagi membentur tanah bebatuan dan tewas dalam mimpinya. Kalau saja itu memang benar kenyataannya, aku mungkin sudah mati sekarang apabila aku tidak sempat terbangun tadi pagi. Dan orang-orang yang berhasil selamat tadi malam? Besar kemungkinan mereka akan bertanya-tanya dalam rasa takut sama halnya seperti apa yang aku alami saat ini. yah, setidaknya aku tidak sendirian.
                Kemudian terlintas di benakku untuk mencari orang yang tadi malam hadir dalam mimpi aneh itu, dengan tujuan agar aku bisa mencari tau bersama dan coba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Aku sangat berharap ada yang mengalami hal yang sama denganku, dengan kata lain dua orang lebih baik daripada sendirian. Aku jadi bersemangat dalam hal ini.
                Tiba-tiba, aku dikagetkan oleh suara guru ku yang tanpa kusadari ia telah memperhatikanku sejak tadi.
“Dave, tolong kamu jelaskan apa yang dimaksud dengan kinematika partikel yang baru saja ibu terangkan!” perintah guruku dengan nada agak membentak.
                Aku terpaku dan tidak bisa melakukan apa-apa, jangankan untuk berfikir, untuk sekedar menghela nafas pun aku sangat susah melakukannya. Aku tersudut, ku tengok sekelelilingku, semuanya memandangku dengan tatapan seakan ingin menelanku hidup-hidup, hanya sahabatku, Tom, yang ku lihat agak tersenyum, tapi senyum yang tidak memberi semangat, oh tidak.. senyum itu sama ketika ia melambaikan tangan padaku saat aku akan naik pesawat, ya, tom ada di mimpi itu semalam. Ini bagus, aku bisa bertanya apa tom apa dia juga bermimpi melihatku naik pesawat tadi malam.
                “Hei Dave ! kamu dengar tidak? Apa perlu ibu ulangi sekali lagi?” ujar guruku merasa terabaikan.
“de.. dengar kok bu” jawabku.
“kalau begitu silahkan maju” kata guruku.
“sekarang bu?” tanyaku.
“No, Next year dave!” ucap guruku yang mulai marah
                Teman-temanku semuanya tertawa, tidak terkecuali dengan Tom, sahabatku sendiri. Aku merasa seperti orang idiot yang sedang dikelilingi serigala lapar. Emosiku memuncak, aku tidak tahan dengan perlakuan seperti itu, coba saja mereka ada di posisiku saat ini dan merasakan hal yang sama dengan apa yang baru saja aku rasakan, pasti mereka akan mengerti mengapa aku tidak bisa memperhatikan penjelasan dari guru. Cukup sudah, aku sudah tidak tahan.
“ Aku tidak tau, bu. Maaf, tadi aku tidak memperhatikan” kataku berterus terang.
“Dave, kalau kau masuk di kelasku hanya untuk melamun, lebih baik tidak usah masuk sama sekali, yang rugi juga bukan saya, tapi kamu sendiri” kata guruku.
“aku minta maaf,bu. Sepertinya aku izin untuk keluar saja kali ini, aku tidak bisa berkonsentrasi pada saat ini” kataku.
“oh, silahkan, mungkin di luar kamu bisa menenangkan pikiranmu, ibu paham, ketika ibu seumuran denganmu ibu juga punya masalah yang sama denganmu sampai ibu tidak bisa berkonsentrasi pada saat pelajaran dimulai” katanya
                Deg..... aku terkejut dengan pernyataan yang baru saja ku dengar. Beliau punya masalah yang sama denganku? Apa beliau bermimpi juga sama sepertiku?
“ maksud ibu?” tanyaku memperjelas
“nantilah kita bicarakan, sepulang sekolah  nanti kamu ketemu ibu di ruangan guru”. Ujarnya.
                Apa aku tidak salah dengar? Guruku juga mengalami hal yang sama denganku? Berarti sekarang dia sudah terbebas dari mimpi itu? Terus begaimana dia bisa tau aku sedang ada masalah tentang mimpi itu? Apakah dia ada di mimpiku tadi malam? Tak terasa kepalaku dibanjiri oleh aliran deras pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Setidaknya sampai sore nanti.
                Kuputuskan untuk mengurungkan niatku, aku kembali duduk di kursiku dan berkata pada guruku kalau aku tidak jadi keluar, aku janji akan fokus dengan penjelasannya. Beliau pun membalas dengan senyum penuh misteri.
******
                Tak terasa jam pelajaran telah usai, aku segera meninggalkan ruang kelas, menuju lokerku yang terletak tidak jauh dari ruangan bahasa inggris, di sana aku menyimpan buku pelajaranku dan setelah itu aku bergegas mencari tempat untuk menyendiri, mungkin saja pikiranku bisa tenang. Dan tujuanku adalah lapangan bola yang terletak di sebelah selatan sekolahku. Aku hanya duduk termenung di sebuah bangku yang disediakan di pinggir lapangan. Entah kenapa setelah sekian lama aku duduk menyendiri di sini, piikiranku sama sekali tidak bekerja, aku hanya lebih pantas dikatakan termenung sendiri di tengah keramaian siswa-siswi yang lalu lalang melakukan berbagai macam aktivitas dan bersenang-senang serta bersenda gurau dengan teman sebaya nya. Andai saja mereka ikut merasakan apa yang kurasakan, bukan tidak mungkin mereka malah panik dan ketakutan. Aku mencoba untuk tetap tenang sambil mencari tau arti dari mimpiku semalam, mungkin saja ada petunjuk yang terlewat. Kucoba mengingat kembali detail demi detail mimpiku. Pada saat aku berlari tak tentu arah di tengah hutan yang gelap, ah tidak ada apapun di sana. Di pesawat, ya mungkin saja... oh astaga, aku ingat, Tom. Ia ada di mimpiku semalam, mungkin saja ia bermimpi yang sama. Aku kemudian segera beranjak dari tempat dudukku, dan berniat  untuk mencari Tom. Meskipun agak aneh, karena setauku mimpi itu bersifat personal, mana mungkin ada orang yang bermimpi sama. Ah tak ada salahnya aku bertanya, lagian mimpiku sebenarnya bukan mimpi pada umumnya. Aku segera mempercepat langkahku menuju tempat di mana biasanya Tom berada pada saat istirahat, di kantin.
                Dan benar saja, di kantin ada Tom dan teman-temanku yang lain, sedang bercanda ria di meja makan. Aku menghampirinya dan berbisik padanya
“Bro, bisa ikut denganku sebentar? Ada yang ingin kutanyakan padamu”
hey, what’s up bro, ada yang salah? Bicarakan lah dengan kami di sini” katanya santai.
“tidak, aku hanya ingin membicarakannya padamu, ini rahasia” kataku sambil berbisik.
“hehe, rahasia apa? Kau baru saja mengetahui siapa pembunuh presiden Kennedy?” katanya sambil bercanda.
“aku serius, ini sangat penting, hanya kau yang bisa kuandalkan dalam situasi ini, mohon mengertilah” kataku.
                Ia pun langsung mengangguk dan berdiri mengiyakan permintaanku. Aku langsung menarik tangannya meninggalkan kantin.
“hei pelan-pelan dong !” kata Tom padaku.
                Terdengar teriakan salah satu temanku dari belakang,
“hahah Sepertinya Tom sedang marahan dengan pacar barunya nih “.
                Lalu seketika ruangan kantin dipenuhi tawa. Aku sangat malu, apa caraku pada Tom terlalu keterlaluan atau terlalu berlebihan sampai kami terkesan seperti pasangan homo. Kulihat tom agak melenggak-lenggokkan pinggulnya ibarat seorang waria. Ku tau ia hanya bermaksud untuk bercanda dan merespon ledekan temanku, tapi aku tetap merasa terganggu dengan tingkahnya. Dan ternyata tanpa kusadari ternyata daritadi aku sedang memegang tangan Tom, alamak. Segera kulepaskan tangannya dengan keras sambil menunjukkan wajah sinis padanya.
“hahah dasar homo” kata Tom padaku.
“heeuh.. terserah” ucapku ketus.
                Lalu ku pimpin ia menuju bangku di depan ruangan perpustakaan, dan aku segera menanyakan apa yang akan kutanyakan padanya.
“Tom, tadi malam kau bermimpi tentang apa?” tanyaku.
“hahah jadi sekarang kau ingin jadi penafsir mimpi? Bravo, bravo, kalau begitu coba tafsir mimpiku, tadi malam aku bermimpi sedang bercumbu dengan Ibu Eliza” katanya enteng.
“Oh C’mon dude, aku sedang serius, jangan bercanda dulu” kataku tegas
“hehe sorry, sorry.. tapi kenapa kau bertanya seperti itu?” ia balik bertanya padaku.
“oh man, just answer my f***ing question” kataku mulai memaksa.
“hei hei relax man, hmmm... semalam aku mimpi apa ya? Aku sudah tidak ingat, rasanya aku tidak bermimpi tadi malam, ketika aku tidur aku tidak ingat bermimpi apa, dan ketika aku buka mata tau-taunya ternyata hari sudah pagi, jadi semalam itu berlalu  begitu saja kawan”. Katanya
“serius? Apa kau tidak bermimpi melihat pesawat?” tanyaku.
“entahlah kawan, aku benar-benar tidak ingat, sepertinya otakku terlalu lelah dan mengabaikan segala yang berada dalam mimpiku. Memangnya sebenarnya ada apa kawan?” katanya
“Sebenarnya aku bermimpi aneh semalam, yang pasti aku melihatmu di dalam mimpiku, saat itu kau....”
“wow wow woow, tunggu dulu, jadi kau melihatku di dalam mimpimu? Dan kau bertanya apa aku melihatmu juga di mimpiku? Kau mengira kita bermimpi hal yang sama?” ujarnya memotong pembicaraan.
“Ya, kira-kira seperti itulah”. Jawabkku
“oh kawan, apa yang terjadi padamu? Seharian ini aku melihat ada yang aneh denganmu, dan sekarang kau percaya kalau dua orang atau lebih bisa bermimpi hal yang sama atau berada di alam mimpi yang sama dalam satu waktu? You’ve gotta be kidding me buddy”. Ujarnya
“Dengarlah, aku percaya kalau mimpiku tadi malam adalah mimpi yang tidak biasa, apa kau pernah membaca Creepypasta tentang Monkey dream? Orang-orang yang berada di mimpi itu satu persatu mati karena hal-hal yang mengerikan, hanya yang terbangun yang bisa selamat dari mimpi tersebut, dan aku beruntung bisa terbangun tadi pagi, dan kau tau apa yang membuatku yakin kalau itu bukan mimpi biasa? Tadi pagi ada berita yang menayangkan orang-orang yang mati tidak wajar di saat tidurnya, aku yakin itu adalah orang yang tidak sempat bangun di mimpiku”. Kataku
                Tom terdiam sesaat, antara percaya atau tidak percaya dia berkata
“Damn dude! Kalau yang kau katakan itu memang benar-benar terjadi, aku takut mimpi itu akan terjadi lagi suatu saat nanti, mungkin sebentar malam. Ayo ikut aku, kita ke ruangan komputer sekarang mungkin kita bisa cari di internet tentang mimpimu itu”. Ujarnya
“ide bagus” kataku.
                Kami pun segera menuju ruangan komputer dengan tergesa-gesa. Sesampainya di sana, tanpa tunggu aba-aba lagi kami langsung menyalakan komputer dan mulai searching di internet. Kucoba memulainya dengan kata kunci “Monkey Dream” tapi hasilnya tidak ada yang berhubungan dengan mimpiku, lalu ku buka kembali salah satu cerita yang pernah kubaca di sebuah blog yang sangat sering kukunjungi, dapat. Isinya tidak lain hanya sekedar cerita seram yang tidak bisa dijadikan acuan untuk memecahkan masalahku. Tom meminta persetujuanku untuk mempersilahkan dirinya untuk membaca cerita itu sejenak. Aku mengiyakan, mungkin dengan begitu, ia bisa sedikit memahami masalahku.
                Setelah membaca, kutanyakan tanggapannya mengenai cerita itu, katanya amazing, hanya itu, hahahah.  Tapi kulihat wajahnya yang tegang dan agak ketakutan saat dia membaca tadi, hahahah, bagaimana jika ia yang berada di posisiku. Tom lalu menatapku, ia mulai paham dengan apa yang terjadi, dan ia mulai memintaku untuk menceritakan mimpiku secara mendetail, timbullah aura kedetektifannya, hehe. Akupun menceritakan semuanya, dan ia terdiam tanpa tanggapan.
                Cukup lama kami berdua terdiam, kutau Tom sedang mencoba berfikir apa yang mesti dilakukan, jadi aku juga ikut diam menunggu hasil pemikirannya yang brilian. Lama, lama sekali.
“oh aku tau..!” ucap Tom mengagetkanku.
“apa yang kau tau?” tanyaku antusias
“aku tau untuk sekarang kita tidak bisa melakukan apa-apa” katanya tegas
“hah?” aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku mulai meragukan IQ dari sahabatku sendiri.
“iya, untuk sekarang kau coba untuk mempublikasikan dan share pengalamanmu di semua media sosial yang kau punya, mungkin saja ada yang bernasib sama denganmu, mungkin mereka akan menanggapi tulisanmu. Saat kau menemukan orang yang bernasib sama denganmu, kurasa akan lebih mudah untuk menelusurinya bersama-sama”. Katanya
“Brilian, brilian.. kau adalah orang idiot yang paling jenius yang pernah aku kenal Tom”. Ucapku bersemangat
“hehe akhirnya kau sadar juga”. Katanya terkekeh.
                Aku pun tanpa basa-basi lagi mulai menulis semua yang kualami semalam dan menyebarluaskannya di seluruh akun sosialku, sedangkan Tom hanya melihatku yang sedang bersemangat. Oke sekarang ceritaku sudah ku sebar, sekarang kita tinggal tunggu tanggapan dari orang di luar sana.
                Tiba-tiba bel panjang terdengar di luar ruangan, bel panjang itu berarti waktunya untuk pulang. What? Pulang? Sekarang jam pulang? Kami saling memandang satu sama lain, ku yakin di kepala kami punya pertanyaan yang sama, selama itu kah kami berada di sini? Berati kami bolos beberapa pelajaran. Seketika kami hanya tertawa terbahak-bahak seakan tidak ada rasa bersalah karena kami telah membolos. Kamipun mulai beranjak meninggalkan ruangan itu. Tom berpamitan ingin segera pulang karena ada hal yang ingin dia kerjakan. Kami pun berpisah.
                Aku tidak langsung pulang karena mengingat janjiku dengan guruku tadi pagi, Ibu Bertha. Aku melangkahkan kakiku menuju ruangan guru. Suasanya di sana sudah sepi dan tidak butuh waktu lama aku sudah bertemu dengan ibu Bertha, ia pun mempersilahkanku duduk.
“Dave, aku tau kamu sedang berada dalam masalah sehingga kamu tidak berkonsentrasi pada jam pelajaranku. Aku pun pernah merasakan masalah yang sama denganmu saat aku seusiamu, tapi aku minta padamu agar tidak membawa masalah itu masuk ke dalam proses belajar”.
                Aku masih bertanya-tanya dengan ucapan bu Bertha tersebut, apa ia sudah tau masalahku dan dia juga pernah bermimpi sepertiku? Kalau begitu aku bisa bertanya banyak hal tentang mimpiku kepadanya. Aku jadi bersemangat.
“Iya bu, aku minta maaf, aku baru pertama kali mengalami hal yang sangat aneh ini, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku mohon bantuan ibu”. Kataku
“he he he, apa yang bisa aku bantu Dave, kau tau aku tidak bisa terlalu ikut campur dengan masalah pribadi muridku, apalagi dalam masalah Percintaan”. Ujarnya terkekeh.
“Percintaan?” ucapku tak mengerti.
“iya, Cinta. Kamu sedang dalam masalah cinta kan?” katanya ringan.
                Apa? Hahah aku sedang mengalami masalah percintaan? Dasar guru sok tau, main asal tebak saja, aku tidak akan menceritakan masalahku padamu, hah, dikiranya aku ini sedang bergalau-galau ria. Oh God...
“enggg... maaf bu, kayaknya aku harus cepat pulang, maaf aku tidak bisa bercerita tentang masalah... percintaanku...” kataku datar
“hiihihi Dave.. Dave.. silahkan, tapi kalau kau butuh teman curhat kau bisa temui ibu” katanya sambil tertawa kecil.
“iya bu..” kataku polos.
Aku lalu meninggalkan ruangan guru itu dengan wajah tidak bersemangat sama sekali.
“Dasar siluman ular berkepala tujuh”. Aku memaki di dalam hati.
                Tapi seketika aku sadar akan kemungkinan yang bisa terjadi saat aku tidur sebentar malam. Aku tidak tau mimpi seperti apa yang telah menungguku.


-To be Continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar